Cerita Menyingkirkan Sifat Pengecut

Diposting pada

Todongan dan tudingan yang kadang kala kita khawatirkan akan mengancam keselamatan, tidak menjadikan kita surut dalam melangkah. Namun demikian, kecerdikan dan kehati-hatian menjadi hal yang mesti dimiliki.

Sesudah memasukkan pedangnya ke warangka, Umar bin Khathab mengikatkan senjata itu di pinggang. Satu busur panah ia selendangkan di punggung. Di tangan kirinya terpegang satu anak panah runcing serta tajam. Di tangan kanannya ia memegang tongkat yang ukurannya cukup panjang.

Sesaat Umar memandangi pintu tempat tinggalnya yang telah tertutup. Sesudah mendesah panjang, pria yang dijuluki Rasulullah saw dengan alFaruq itu selekasnya bergegas menuju ka’bah. Disaksikan sekumpulan pemuka kafir Quraisy, ia. thawaf mengelilingi baitullah dengan tenang tanpa ada rasa takut sedikit juga. Usai melakukan thawaf, ia tempatkan pedang, busur serta tongkatnya di tanah, lantas berdiri melakukan shalat dua rekaat.

Beberapa pemuka Quraisy cuma melihat sinis apa yang dikerjakan Umar. Tidak seseorang juga dari mereka berani menghindar atau bertindak apa pun pada Umar yang betul-betul menantang mereka.

Cukup hingga di situ tantangan Umar? Tidak! Demikian usai shalat, ia selekasnya ambil senjatanya. la berdiri tegar dihadapan sekumpulan kafir Quraisy seraya berseru lantang serta berani, “Wahai beberapa lumrah celaka! Barangsiapa yang menginginkan ibunya kehilangan anak, atau istrinya jadi janda, atau anaknya kehilangan bapak, sebaiknya ia menghambatku dibalik lembah ini. ”

Umar melihat berkeliling-keliling, lantas meninggalkan tempat itu. Lama ia menanti dibalik lembah yang ia maksud, tapi tidak seseorangpun dari kafir Quraisy yang berani menjawab tantangannya. Dengan penuh kemenangan, Umar pergi ke Madinah, menyusul golongan muslimin yang sudah pindah lebih dulu.

Keberanian. ltulah diantara ibroh yang dapat dipetik dengan segera dari cerita Umar bin Khathab diatas. Ali bin Abi Thalib meriwayatkan, kalau sesudah momen itu, golongan muslimin mulai bersama-sama lakukan pindah ke Madinah. Meskipun beberapa besar dari mereka mengerjakannya dengan sembunyi-sembunyi, tapi tidak bisa disangkal, keberanian Umar, jadi aspek utama-selain perintah Allah-bagi golongan muslimin untuk lakukan pindah.

Dalam konteks saat ini, hadirnya sosok seperti Umar bin Khathab jadi keniscayaan untuk golongan muslimin. Di dalam semua desakan serta himpitan musuh-musuh Allah pada umat Islam, baik dengan politik, ekonomi, ataupun sosial, golongan muslimin mesti melahirkan serta cetak kader-kader berani. Yakni, mereka yg tidak takut hadapi desakan, tudingan maupun ancaman.

Malah, di waktu ada dalam kondisi disudutkan, ditekan serta dipandang aktor semua kejahatan, kita mesti berani tunjukkan jati diri yang sesungguhnya. Apa yang dikerjakan Nabi lbrahim saat di tanya siapa aktor penghancuran berhala, pantas kita renungi. Dengan lantang serta berani, ia menjawab, “Patung yang besar tersebut yang mengerjakannya. ” Jawaban sekalian ejekan! Karna satu patung mustahil menjawab.

Musuh-musuh Islam yang sekarang ini selalu memperlancar propaganda mesti dihadapi. Ketidak. dapatan tidak selama-lamanya mengharuskan tiarap. Kemampuan lawan yang semakin besar jangan pernah mengundurkan agenda dakwah. Meskipun Nabi Ibrahim tahu kalau kemampuan lawan jauh semakin besar, tapi tidak membuatnya sangsi untuk menyebutkan kebenaran.

Walau Umar bin Khathab maklum bila beberapa pemuka Quraisy mengeroyoknya, ia tentu kerepotan. Saat dipaksa untuk menyebutkan kalau al-Quran yaitu makhluk, Imam Ahmad menampik dengan tegas meskipun mesti mendekam di penjara. Keadan darurat tidak membuatnya mundur. Karna, kebenaran mesti ditegakkan, dalam kondisi apapun. Tersebut yang buat beberapa pendahulu kita melakukan perbuatan sekian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *